Pemain kelahiran Pegok, Denpasar (Bali), 18 Oktober 1987 menjalani hukuman akumulasi kartu. Persisnya setelah dia diganjar kartu merah oleh wasit Alil Rinenggo menit ke-29 saat mengalahkan PSMS Medan 4-2, Minggu (10/5) lalu di Surajaya, Lamongan.
Minus Nano-sapaan karibnya, sama seperti Persija Jakarta yang kehilangan Ponaryo Astaman. Tak ada pemain yang bisa meng-cover. Terbukti, Macan Kemayoran digelontor 4-3 oleh Laskar Wong Kito (julukan Sriwijaya).
Menurut coach Sriwijaya minus Nano adalah celah yang bisa dimanfaatkan. Apalagi peran Nano termasuk penting. Meski usianya baru 22 tahun, tapi mantan pemain Persekabpas Pasuruan selalu dijadikan coach Widodo C Putro (termasuk ketika dilatih M Basri) sebagai starter.
“Kami tak harus selalu fokus menyerang dari kedua sayap. Tapi, lini tengah harus lebih hidup. Saya pikir, kami bisa menang lawan Persela,” ungkap Rahmad Darmawan, kemarin (11/5).
Namun, Sriwijaya sendiri juga kehilangan satu pemain, Wijay. Dia juga menjalani hukuman akumulasi kartu. Tapi, peran gelandang bertahan kelahiran Medan, 29 Desember 1982, bisa di-cover pemain lain. Masih ada M Nasuha, Toni Sucipto, atau Alamsyah Nasution.
“Yang penting, anak-anak tetap bisa menjaga konsistensi tim. Jujur, saya sangat senang dengan apa yang mereka tampilkan saat mengalahkan Persija. Semoga bisa terulang lagi,” pungkas pelatih asal Metro, Lampung.
Musim 2007 lalu, Sriwijaya memang lebih unggul dari Persela. Di Jakabaring (29/4/07), bisa menang besar 5-1. Sedangkan di Surajaya (7/8/07), imbang 2-2. Musim 2008, Sriwijaya telah mengantongi kemenangan 2-1 di Jakabaring (5/8/08). (mg2)
sumber : sumeks






0 comments:
Post a Comment
Tinggalkan Pesan Anda