About Me

Dapatkan berbagai Informasi menarik Disini dari berbagai sumber terpecaya

Get The Latest News

Sign up to receive latest news

Monday, March 9, 2009

Mengulang Memori 1985

ImageLive TPI , pukul 19.00 WIB
Besok (10/3), Sriwijaya FC v Seoul FC

PALEMBANG - Kampanye Sriwijaya FC (SFC) untuk go international segera dimulai. Besok (10/3) pukul 19.00 WIB di Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), tim berjuluk Laskar Wong Kito bermain kali pertama di Liga Champion Asia (LCA). Ya, tim polesan Rahmad Darmawan ini akan menjamu Seoul FC, Korsel, di leg ke-1 babak 32 besar.Tak ada target yang dibebankan kepada Laskar Wong Kito. Tapi, Charis Yulianto dkk bertekad untuk tidak sekadar menjadi tim “hore” alias penggembira. Mereka enggan mengikuti jejak wakil-wakil Indonesia lainnya, yang gagal menembus babak ke-2. “Saya sudah siapkan strategi lawan Seoul. Paling utama, kami akan memperkuat lini tengah,” terang Rahmad Darmawan, kemarin (8/3).Musim 2009 ini, SFC satu-satunya wakil Indonesia di LCA. Sedangkan, PSMS Medan hanya bermain di level kedua AFC Cup (sejenis UEFA cup). Itu setelah Ayam Kinantan-julukan PSMS dibungkam Singapura Armed Force (SAF) 1-2 di babak play off.Kali pertama bukan berarti akan sia-sia. Pelatih 42 tahun ini punya ambisi luar biasa besar. Rahmad punya alasan tepat. Sebab, meski SFC tim Sumsel pertama yang tampil di LCA, tapi 20 tahun lalu ternyata sudah ada tim Sumsel yang jauh lebih trengginas di LCA (dulu masih bernama AFC cup, red), yaitu Kramayuda Tiga Berlian (KTB).
  



Memori 1985 jelas tidak terlupakan. Sebab, KTB satu-satunya wakil Indonesia yang bisa menjadi juara III LCA. Waktu itu, mereka bisa mengalahkan Al Ittihad (Aleppo) di Syiria 1-0. Di penyisihan, KTB menjadi juara grup 4. Sukses menggulung Bangkok Bank (Thailand), Tiong Bahru CSC (Singapura), Malacca AFA (Malaysia), dan APD (Brunei Darussalam).
    “Itu salah satu alasan kami. Orang mungkin mengganggap Seoul tim hebat. Itu benar karena statistikanya memang luar biasa. Tapi, sepakbola susah ditebak. Kami jelas tidak mau kalah,” sambung pelatih asal Metro, Lampung, ini.
    Frase “sejarah selalu bisa terulang” memang berasal dari Prancis. Tapi, Rahmad sudah berkali-kali  mengalami frase tersebut. Edisi 2005, merengguh gelar juara bersama Persipura. Dua tahun kemudian (2007), juara terulang lagi. Tapi, bersama SFC. Bahkan, dua trofi sekaligus (double winners).
    “Tak ada sesuatu yang tidak mungkin. KTB salah satu contoh yang bisa dibanggakan. Orang mungkin tidak banyak yang tahu. Tapi, sejarahnya bahwa KTB jadi juara III itu memang ada,” tegasnya.
    Ada beberapa pemain paling berbahaya yang diwaspadai Rahmad. Terutama dua striker-nya Dejan Damjanovic (Serbia) dan Jung Jo-Gook. Keduanya sangat kompak. Terakhir, kontribusi kedua striker tersebut memberi kemenangan 6-1 pada Seoul atas Chunnam Dragon di kick off perdana K-League 2009 pada Sabtu, 7 Maret lalu.     “Mereka tidak akan masuk ke pertahanan kami. Tidak ada kesempatan sedikit pun,” tegas defender SFC Charis Yulianto.
    Terpisah, Seoul FC punya kepercayaan diri sangat tinggi. Termasuklah karena kemenangan 6-1 atas Chunnam Dragon. Namun, coach Senol Gunes punya ambisi besar di LCA. “Saya ingin bawa Seoul ke final. Itu target minimal kami,” terang Gunes kepada AFC.
    Seoul satu-satunya tim di K-League yang punya catatan away paling bagus. Dari 10 laga away terakhir K-League 2008, hanya tiga kali saja kecolongan seri. Yaitu 1-1 dengan Gyeongnam Ilhwa pada 26 April 2008. 1-1 dengan Daejon Citizen, 18 Mei 2008. Serta 2-2 dengan Incheon United pada  29 Oktober 2008.
    “Saya sudah teliti tiga lawan kami. Baik Sriwijaya, Shandong atau Gamba semua tim kuat. Tapi, yang paling berbahaya Gamba Osaka. Mereka tim juara 2008 lalu,” sambung pelatih yang mengantar Turki juara III di Piala Dunia 2002 Korsel-Jepang.
    Soal starting eleven lawan Sriwijaya, Senol tidak mengandalkan pemain tertentu. Meski kategori bintang sekaligus. Bagi pelatih kelahiran Tranzon, Turki, 1 Juni 1952 ini, para pemainnya bisa menonjolkan skill masing-masing.
    “Semua pemain harus kerja keras. Termasuk pemain muda sekalipun. Sebab, itu akan jadi pengalaman internasional mereka,” pungkas pelatih terbaik ke-3 versi IFFHS (International Federation of Football History & Statistics).(mg2)


sumeks

Artikel Terkait



0 comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan Anda